REPLIKNEWS, TORAJA UTARA - Jumlah ternak babi yang meninggal akibat virus demam babi afrika atau Afrikan Swine Fever (ASF) di Kabupaten Toraja Utara (Torut) terus meningkat. Mengantipasi penyebaran virus ASF, Pemkab Toraja Utara melalui surat edaran bupati telah melarang mobiliasi ternak babi keluar masuk di wilayah torut.
Tak hanya itu, Pemkab Toraja Utara telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) ASF yang berjaga di posko perbatasan.
Namun faktanya, ternak babi dari luar daerah masih lolos ke wilayah Toraja Utara, bahkan tembus ke Pasar Hewan Bolu, Rantepao.
"Ada yang masuk (Pasar Bolu). Ini suda sekitar satu minggu banyak yang paksa masuk, itu suda ratusan ekor", kata Lukas Pasarai Datubarri, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Toraja Utara kepada REPLIKNEWS, Kamis (22/6/2023) sore.
"Itu sudah diluar kemampuan kami, karena kami dibawakan preman, dibawakan orang-orang tertentu untuk meloloskan itu. Apala daya kami", bebernya.
Lukas Pasarai mengaku tidak ada satgas ASF yang di tugaskan di Pasar Hewan Bolu, sebab, kata dia, satgas ASF di Toraja Utara masih minim.
"Memang tidak ada didalam (Pasar Hewan Bolu), tidak ada yang jaga", kata Lukas Pasarai.
Ia mengungkapkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI-Polri untuk dilibatkan dalam satgas ASF Toraja Utara.
"Kemarin kami sudah berkoordinasi dengan Kepolisian dalam hal ini reskrim (Polres Toraja Utara), kemarin kami sudah jalan-jalan kesana (Perbatasan), Pak Kasatreskrim sendiri sudah lihat keadaannya. Kita mengharapkan TNI-Polri untuk membeckup dan itu sudah ada", ungkapnya.
Ia juga menghimbau kepada masyarakat untuk sama-sama menjaga dan melaporkan bila ada ternak yang masuk dari luar.
"Karena keterbasan satgas dan jumlahnya juga terbatas jadi kami menghimbau kepada masyarakat untuk sama-sama menjaga, tolong dilaporkan kepada kami, karena inikan waba, bukan hanya pemerintah saja yang bertanggungjawab kita juga masyarakat, karena ini berdampak langsung kepada perekonomian masyarakat", ungkapnya.
Penulis : Iga
Editor : Redaksi






